Friday, March 22, 2024

Guru itu Pekerjaan yang Mulia tetapi sering "Berbohong"

Salam Pembaca.

Semoga kabarnya baik-baik saja ya.

Dalam tulisan kali ini saya tergelitik untuk mengangkat tema tentang pekerjaan mulia yang disebut guru, terutama guru di sekolah umum bukan sekolah agama.

Guru merupakan sebuah pekerjaan yang mulia dimana setiap orang mentransfer keilmuannya yang dia miliki kepada setiap siswa baik secara langsung maupun maupun tidak langsung. Guru yang bisa dikatakan sebagai seseorang yang paling dihormati oleh siswa dan wali muridnya sebagai orang yang berjasa mengajarkan anaknya demi masa depannya. 

Orang yang telah berjasa mengantarkan sebagian orang menjadi sukses di dunia yang sedang atau akan di geluti di masa depannya itu merupakan manusia yang telah terbiasa berbohong dengan keadaan, bagaimana tidak, guru itu sering kali memanipulasi nilai siswa.

Pada dasarnya setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda dan inilah yang wajar sekali karena siswa berasal dari latar belakang orang tua yang berbeda-beda mulai dari asupan gizi yang dimakan, ruang lingkungan yang berbeda-beda, dan juga akses yang diperoleh untuk belajar. hal ini lah yang membuat kecerdasan setiap siswa itu unik dan berbeda.

Oleh karena itu siswa yang memiliki kecerdasan yang berbeda-beda itu ada kalanya siswa itu pintar sekali, ada yang biasa-biasa saja dan ada juga yang masuk kategori bodoh sekali, dengan adanya kategori itu maka setiap kali ada ujian uts, uas, maupun kenaikan kelas maka guru itu akan terus berusaha untuk menaikan nilai kepada siswa yang bodoh tersebut yang sejatinya tidak dapat nilai standar kenaikan kelas atau KKM menjadi setara dengan KKM sehingga siswa tersebut bisa naik kelas, bisa lulus ujian, bisa buat mendaftar ke sekolah jenjang berikutnya dengan menggunakan seleksi prestasi dari sekolah negeri atau swasta berikutnya supaya diterima.

Saya ilustrasikan contoh realnya seperti ini, Jika seorang siswa A yang memang memiliki kecerdasan cukup tinggi memperoleh nilai ujian 8, dan Si B yang biasa saja mendapat nilai 5-6, sedangkan siswa yang bodoh didalam kelas misalnya ada 2-3-4 orang itu memperoleh nilai 0-3 dari 10. maka seorang guru akan berusaha mengkatrol nilai itu menjadi nilai yang standar dengan KKM yaitu 6-7 sesuai kesepekatan baik pemerintah maupun sekolah tersebut.

Inilah yang membuat hati nurani seorang guru kadang kala terkoyak hanya untuk menaikan nilai siswa yang lagi dan lagi terulang setiap tahunnya, entah sudah berapa puluh siswa yang nilainya hasil katrolan oleh guru dengan miris sebetulnya menuliskan nilai itu baik kedalam data di komputer maupun keatas secarik kertas di surat keterangan maupun di rapot.

Itu baru satu sisi yaitu kebohongan tentang nilai siswa. belum lagi kebohongan-kebohongan lainnya seperti penulisan laporan dana BOS, dana BOS merupakan dana yang diberikan oleh pemerintah melalui dinas pendidikan kepada sekolah untuk kepentingan Bantuan Operasional Sekolah, jumlah besaran bos sudah di tentukan sekian untuk jenjang pendidikan tertentu dikalikan dengan jumlah siswa yang ada pada sekolah tersebut.

Adapun titik kebohan dalam pelaporan BOS ini adalah menuliskan jumlah pembelian yang tidak sesuai dengan aktual yang dibeli, penulisan laporan itu tidak semuanya seperti itu tetapi hampir sebagian bahkan separuh dari laporan itu yang dituliskan dengan fiktif belaka, ini sudah terjadi pada hampir di seluruh sekolah yang berada di Indonesia, siapakah pelakunya?

Tidak lain dan tidak bukan adalah oknum guru, dimulai dari yayasan, kepala sekolah, bendahara, operator dan lain-lainnya yang secara langsung terlibat dalam pengurusan keuangan BOS itu.

Demikian unek-unek yang dapat saya tulis pada sore hari ini dibulan ramadhan tanggal 23 maret 2024, pukul 17.33 Wib. semoga dengan menuliskan tulisan ini menjadi plong perasaan pingin ngetik panjang lebar mengenai tema ini. terima kasih yang sudah sudi untuk membaca tulisan yang tidak rapih ini.

sekian.

Farkhan calon orang sukses

Share:

Tuesday, March 5, 2024

Mirisnya menjadi Guru di Tengah Perpolitikan Nasional

 Hi Salam Pembaca


Menjadi merupakan salah satu pekerjaan mulia yang banyak di idamkan oleh hampir seluruh rakyat indonesia, bagaimana tidak guru adalah sosok yang di hormati oleh siswa, orang tua siswa dan juga masyarakat disekitar tempat ia tinggal. Guru adalah seseorang yang dapat dikatakan tulang punggung negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta berperan terhadap perdamaian dunia melalui jalur pendidikan.

Panasnya dunia perpolitikan saat ini tahun 2024 juga tidak dapat dari persoalan guru dan pendidikan nasional, karena jumlah profesi guru yang sangat masive di indonesia dan juga tersebar ke berbagai pelosok-pelosok tanah air, sehingga sangat sentral jika di jadikan "Alat" untuk seseorang yang ingin berkuasa untuk memainkan peran serta ajakan kepada guru untuk terlibat aktif dalam sebuah kampanye maupun sebuah inisiatif gerakan yang dapat mendongkrak popularitas salah satu calon tersebut sehingga dapat suara yang signifikan.

Pada tahun politik seperti saat ini, banyak dari politikus yang memanaskan situasi dengan janji-janji yang mereka tawarkan kepada para guru dengan harapan bahwa guru-guru akan menjadi pemilih buat mereka, para politikus memberikan janji manisnya kepada para guru terutama guru honorer jika jagoannya yang terpilih maka akan menghapus honorer atau mengangkat mereka yang belum menjadi PNS atau ASN dengan jalan melalui P3K atau kontrak pekerjaan dengan waktu tertentu.

Selain dari pada itu ada pula seseorang pasangan calon yang bukan saja memberikan janji manis tetapi lebih dari itu yaitu memberikan "Makan siang dan Susu" Gratis kepada siswa-siswanya yang akan di pilih nanti, hal ini menjadi sebuah pemicu untuk terjun langsung memilih pasangan tersebut karena dapat memberi efek positif kepada sebagian masyarakat kalangan menengah kebawah untuk dapat makan bergizi pemberian dari pemerintah melalui berbagai skema pembiayaan yang sedang disusun dan di rencanakan oleh para ahli di bidang pendidikan, keuangan dan strategi nasional.

Polemik Makan siang dan susu gratis ini lah yang menjadi isu nasional tentang politik tahun ini sehingga guru secara tidak langsung akan memenangkan calon tersebut, tanpa peduli bahwa sebetulnya penghasilan sebagai guru sangatlah "Miris" dan jauh dari kata cukup untuk menghidupi kebutuhan dia sehari-hari dan keluarganya karena gaji guru honorer atau guru yang belum PNS adalah range nya sekitar 300.000 -  1.000.000 dalam satu bulan, dan pemerintah tidak membuat sebuah gebrakan baru bagaimana caranya supaya guru dapat hidup layak. ini lah mirisnya nasib guru di tengah perpolitikan nasional yang belakangan ini memenas.

Semoga ada jalan keluar untuk para guru mendapatkan hal yang layak dari sebuah pekerjaan yang di anggap mulia oleh sebagian orang. 

cukup sekian penjelasan dari saya, nanti kita akan sambung lagi lain waktu.

Share:

jumlah pengunjung

BTemplates.com

Search This Blog

Powered by Blogger.

Translate

about us

My photo
Tangerang, Kota Tangerang, Indonesia
Mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, senang bermain komputer atau laptop.